Fenomena set-jetting, atau yang secara akademis sering disebut sebagai film-induced tourism atau screen tourism, telah bertransformasi dari sekadar tren ceruk menjadi kekuatan ekonomi masif yang mendefinisikan ulang peta pariwisata global. Istilah ini pertama kali dipopulerkan pada awal tahun 2000-an untuk menggambarkan perilaku wisatawan yang memilih destinasi liburan mereka berdasarkan lokasi syuting film atau serial televisi favorit. Di era digital saat ini, di mana platform streaming seperti Netflix, Disney+, dan HBO Max mendominasi konsumsi media harian, pengaruh representasi visual terhadap keputusan perjalanan telah mencapai titik puncaknya.
Kekuatan narasi visual mampu menciptakan keterikatan emosional yang mendalam antara penonton dan lokasi yang ditampilkan di layar. Hal ini melampaui sekadar kunjungan fisik; ini adalah upaya untuk merasakan atmosfer, menghidupkan kembali momen ikonik, dan menjadi bagian dari narasi yang mereka kagumi. Analisis ini akan membedah bagaimana set-jetting bekerja sebagai katalisator ekonomi dan apa saja implikasi sosiologis yang menyertainya bagi masyarakat lokal dan keberlanjutan infrastruktur.
Mekanisme Psikologis di Balik Perilaku Set-Jetting
Mengapa sebuah film mampu menggerakkan ribuan orang untuk melintasi benua demi melihat sebuah tangga beton atau tebing yang sunyi? Jawabannya terletak pada keterlibatan emosional dan konsep “escapism”. Film tidak hanya menyajikan gambar, tetapi juga menyuntikkan makna ke dalam sebuah ruang geografis. Sebuah lokasi syuting berhenti menjadi sekadar titik koordinat dan berubah menjadi simbol dari nilai-nilai tertentu—keberanian, romansa, atau misteri.
Secara psikologis, wisatawan set-jetting mencari validasi atas pengalaman estetika yang mereka dapatkan saat menonton. Fenomena ini diperkuat oleh budaya media sosial, di mana berbagi foto di lokasi yang “dikenali” memberikan modal sosial tertentu bagi individu tersebut. Keinginan untuk mengunggah foto di tangga yang sama tempat karakter Joker menari di New York, atau mengunjungi desa terpencil di Swiss yang menjadi latar drama Korea Crash Landing on You, adalah bentuk konsumsi simbolis yang sangat kuat di abad ke-21.
Dampak Ekonomi: Efek Multiplier dan Transformasi Sektor Jasa
Dari perspektif ekonomi, set-jetting menawarkan potensi pertumbuhan yang luar biasa bagi destinasi yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam radar pariwisata arus utama. Ketika sebuah lokasi digunakan sebagai latar belakang produksi besar, wilayah tersebut mendapatkan promosi global secara cuma-cuma yang nilainya bisa mencapai jutaan dolar jika dikonversi ke biaya iklan tradisional.
Pertumbuhan PDB Lokal dan Penciptaan Lapangan Kerja
Lonjakan wisatawan secara langsung memicu permintaan pada sektor perhotelan, transportasi, dan kuliner. Hotel-hotel di sekitar lokasi syuting seringkali melaporkan tingkat okupansi yang melonjak drastis segera setelah sebuah film dirilis. Selain itu, muncul unit-unit usaha baru yang spesifik melayani kebutuhan wisatawan film, seperti tur berpemandu ke lokasi syuting, penyewaan kostum, hingga toko suvenir bertema film tersebut.
Diversifikasi Produk Pariwisata
Industri perfilman memungkinkan diversifikasi produk pariwisata. Sebagai contoh, Selandia Baru telah berhasil mengintegrasikan industri film ke dalam identitas nasional mereka melalui kampanye “100% Pure Middle-earth” setelah kesuksesan trilogi The Lord of the Rings. Hal ini menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan selama lebih dari dua dekade, membuktikan bahwa dampak set-jetting tidak harus bersifat jangka pendek jika dikelola dengan strategi branding yang tepat.
Studi Kasus: Transformasi Destinasi Melalui Lensa Kamera
Beberapa wilayah di dunia telah menjadi saksi bisu bagaimana kekuatan sinema mengubah nasib ekonomi mereka secara radikal.
Islandia dan Pengaruh Game of Thrones
Sebelum tahun 2010, Islandia merupakan destinasi yang relatif jarang dikunjungi oleh massa internasional. Namun, penggunaan lanskap vulkanik dan es Islandia dalam serial Game of Thrones memicu ledakan pariwisata yang belum pernah terjadi sebelumnya. Antara tahun 2011 hingga 2018, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Islandia meningkat lebih dari 400%. Sektor pariwisata bahkan melampaui industri perikanan dan aluminium sebagai kontributor terbesar bagi ekonomi nasional negara tersebut.
Korea Selatan: Hallyu dan Pariwisata Berbasis Drama
Korea Selatan adalah contoh paling sukses dalam mengintegrasikan kebijakan budaya dengan strategi pariwisata. Fenomena Hallyu (Gelombang Korea) melalui K-Drama telah menciptakan arus wisatawan yang stabil ke lokasi-lokasi seperti Pulau Nami atau area perkotaan di Seoul. Pemerintah Korea Selatan secara aktif memberikan insentif bagi produksi film internasional untuk melakukan syuting di sana, menyadari bahwa setiap adegan adalah brosur pariwisata yang berjalan secara global.
Tantangan Sosio-Ekonomi: Antara Berkah dan Beban
Meskipun memberikan keuntungan finansial yang besar, set-jetting juga membawa tantangan signifikan yang jika tidak dikelola, dapat merusak tatanan sosial dan lingkungan setempat.
Fenomena Overtourism dan Degradasi Lingkungan
Masalah utama yang sering muncul adalah ketidaksiapan infrastruktur lokal dalam menghadapi lonjakan wisatawan yang tiba-tiba. Lokasi-lokasi yang awalnya tenang dan tersembunyi bisa berubah menjadi area yang sangat padat, menyebabkan kemacetan, polusi suara, dan kerusakan fisik pada situs-situs bersejarah atau ekosistem alam yang rapuh. Maya Bay di Thailand, yang menjadi terkenal karena film The Beach, terpaksa ditutup selama beberapa tahun untuk pemulihan ekosistem laut akibat kerusakan parah yang disebabkan oleh ribuan turis harian.
Gentrifikasi dan Kenaikan Biaya Hidup
Secara sosiologis, peningkatan popularitas suatu daerah sebagai lokasi syuting sering kali memicu kenaikan harga properti dan biaya hidup. Penduduk lokal mungkin merasa terpinggirkan karena harga kebutuhan pokok dan sewa rumah meningkat untuk menyesuaikan dengan daya beli wisatawan. Hal ini menciptakan ketegangan sosial antara masyarakat setempat yang ingin mempertahankan gaya hidup tradisional mereka dengan pelaku industri yang ingin memaksimalkan keuntungan dari tren pariwisata tersebut.
Komodifikasi Budaya
Sering kali terdapat risiko di mana identitas asli sebuah lokasi terdistorsi demi memenuhi ekspektasi wisatawan yang datang berdasarkan gambaran fiksi di film. Masyarakat lokal mungkin mulai “memerankan” karakter atau tradisi yang sebenarnya tidak ada dalam budaya asli mereka, hanya karena hal itu ditampilkan dalam film populer. Hal ini mengancam keaslian budaya dan dapat menyebabkan hilangnya warisan sejarah yang sebenarnya.
Strategi Manajemen Destinasi Berbasis Film
Untuk memitigasi dampak negatif dan memaksimalkan potensi positif, Organisasi Manajemen Destinasi (DMO) perlu mengadopsi pendekatan yang proaktif dan berkelanjutan.
- Integrasi Perencanaan Pariwisata dan Industri Kreatif: Pemerintah harus memastikan adanya koordinasi antara komisi film (yang menarik produksi) dengan dewan pariwisata (yang mengelola wisatawan). Perencanaan harus dilakukan sejak tahap pra-produksi film.
- Pengembangan Infrastruktur yang Responsif: Membangun fasilitas yang memadai—seperti area parkir, pusat informasi, dan sistem pengelolaan limbah—sebelum promosi besar-besaran dilakukan sangatlah krusial.
- Edukasi Wisatawan dan Keterlibatan Masyarakat: Mengedukasi wisatawan tentang pentingnya menghormati privasi penduduk lokal dan menjaga kelestarian lokasi sangat penting. Masyarakat lokal juga harus dilibatkan sebagai pemangku kepentingan utama, bukan sekadar penonton, agar mereka mendapatkan manfaat ekonomi langsung secara adil.
- Pemanfaatan Teknologi Digital: Penggunaan aplikasi Augmented Reality (AR) dapat membantu mengurai kerumunan dengan memberikan pengalaman virtual di lokasi-lokasi alternatif, sehingga konsentrasi massa tidak hanya tertumpu pada satu titik ikonik saja.
Peran Platform Streaming dalam Evolusi Set-Jetting
Kehadiran platform video-on-demand (VOD) telah mengubah siklus hidup fenomena set-jetting. Jika dulu popularitas sebuah lokasi bergantung pada penayangan di bioskop yang terbatas waktu, kini serial di Netflix atau Disney+ dapat diakses kapan saja oleh audiens global secara terus-menerus. Hal ini menciptakan “efek ekor panjang” (long-tail effect) di mana sebuah lokasi dapat tetap relevan dan dikunjungi selama bertahun-tahun setelah konten tersebut pertama kali dirilis.
Algoritma rekomendasi pada platform ini juga berperan dalam mengekspos penonton pada lokasi-lokasi eksotis yang sebelumnya tidak dikenal. Serial seperti Emily in Paris telah secara signifikan meningkatkan minat pada distrik-distrik tertentu di Paris yang sebelumnya bukan merupakan titik utama turis. Demikian pula, serial Chernobyl memicu lonjakan minat pada wisata sejarah kelam (dark tourism) di wilayah Ukraina, menunjukkan bahwa cakupan set-jetting sangat luas, mencakup berbagai genre dan jenis lokasi.
Masa Depan Set-Jetting: Menuju Pariwisata yang Lebih Bertanggung Jawab
Ke depan, industri pariwisata global harus memandang set-jetting bukan hanya sebagai tren sesaat, melainkan sebagai bagian integral dari strategi pembangunan wilayah. Fokus harus beralih dari sekadar mengejar kuantitas kunjungan menuju kualitas pengalaman dan keberlanjutan jangka panjang. Penggunaan data besar (big data) untuk memprediksi tren tontonan dan potensi lonjakan wisatawan akan menjadi alat yang sangat berharga bagi pengelola destinasi.
Selain itu, kerja sama internasional dalam hal insentif pajak bagi rumah produksi yang berkomitmen pada praktik syuting ramah lingkungan akan semakin diperkuat. Hal ini memastikan bahwa jejak karbon yang ditinggalkan oleh produksi film tidak memperburuk kondisi lingkungan di lokasi-lokasi yang kemudian akan menjadi magnet bagi para set-jetters. Dengan pendekatan yang holistik, sinergi antara dunia perfilman dan pariwisata dapat menciptakan nilai tambah yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga memperkaya pemahaman lintas budaya di panggung dunia.



Komentar