<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Industri Pariwisata on Tren Perjalanan Pasca-Pandemi</title><link>https://pascapandemi.com/categories/industri-pariwisata/</link><description>Recent content in Industri Pariwisata on Tren Perjalanan Pasca-Pandemi</description><generator>Hugo</generator><language>id-ID</language><lastBuildDate>Thu, 12 Feb 2026 10:15:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://pascapandemi.com/categories/industri-pariwisata/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Analisis Fenomena Set-Jetting: Implikasi Sosio-Ekonomi Industri Perfilman pada Sektor Pariwisata Global</title><link>https://pascapandemi.com/posts/analisis-set-jetting-global/</link><pubDate>Thu, 12 Feb 2026 10:15:00 +0700</pubDate><guid>https://pascapandemi.com/posts/analisis-set-jetting-global/</guid><description>&lt;p>Fenomena &lt;em>set-jetting&lt;/em>, atau yang secara akademis sering disebut sebagai &lt;em>film-induced tourism&lt;/em> atau &lt;em>screen tourism&lt;/em>, telah bertransformasi dari sekadar tren ceruk menjadi kekuatan ekonomi masif yang mendefinisikan ulang peta pariwisata global. Istilah ini pertama kali dipopulerkan pada awal tahun 2000-an untuk menggambarkan perilaku wisatawan yang memilih destinasi liburan mereka berdasarkan lokasi syuting film atau serial televisi favorit. Di era digital saat ini, di mana platform &lt;em>streaming&lt;/em> seperti Netflix, Disney+, dan HBO Max mendominasi konsumsi media harian, pengaruh representasi visual terhadap keputusan perjalanan telah mencapai titik puncaknya.&lt;/p></description></item></channel></rss>